Showing posts with label Learn. Show all posts
Showing posts with label Learn. Show all posts

Friday, January 27, 2012

Kegagalan itu (Sedikit) Menyakitkan

Suatu hari kamu membagi informasi mengenai suatu kompetisi kepada seorang teman. Kompetisi yang juga ingin kamu ikuti.

Lalu ternyata, dia memberitahukan info tersebut ke teman yang lain. Dan kamu tetap menginginkan untuk memenangkannya.
Sangat. Ingin. Memenangkannya.
It's your passion and you've been desire for a long time.
Walaupun kamu tahu, mereka punya nilai yang lebih tinggi darimu.

Tak disangka, ternyata mereka lolos, dengan seleksi (pada kompetisi tersebut) yang menurutmu nggak fair.
Dan kamu? Cuma bisa gigit jari.

Kamu mulai berpikir,
apakah kemenangan hanya diperuntukkan untuk mereka -yang lebih tinggi nilainya- nilai yang dilihat dari 'hitam di atas putih'?
gitu aja, tanpa seleksi lebih dalam?

Jadi, masihkah ada ruang untuk si bodoh ini untuk berkembang?

Hey you. Nevermind, my friend. No need to be guilty. Just go your way.
People go and forget, don't they? And I probably will do the same.


saat-saat menyakitkan, 

Januari 2012

Tuesday, April 26, 2011

Teachers :)

I appreciate my teachers/lecturers who can teach and motivate the students without make them feel depressed,
who care and respect them like they're his/her children,
who can teach any lessons not only by what he/she says but also show it by what he/she does.

Dari sekian banyak dosen yang pernah dan sedang mengajar saya di kampus, hanya beberapa yang menurut saya "memenuhi kualifikasi" sebagai dosen teladan. Saya begitu respect terhadap para tenaga pengajar, khususnya beliau-beliau yang bisa "mengajar tetapi tidak melulu mengajarkan materi pada silabus". Sedikit rumit dipahami kah, kata-kata saya barusan?

Menjadi tenaga pengajar itu berat. Harus sabar dengan murid-muridnya yang bandel, yang kadang "butuh waktu rada lama" buat memahami materi, dan lain-lain. Sungguh, saya benar-benar mengagumi guru-guru dan dosen-dosen saya. Namun, saya akan menaruh apresiasi lebih tinggi terhadap para guru/dosen yang mengajar dan memberi motivasi buat murid/mahasiswanya. Kata-kata motivasi yang diselipkan di antara jam-jam beliau memberi kuliah, atau saat bertemu face to face.

Seringkali saya membandingkan dosen di kampus saat ini dengan guru saat di sekolah dulu. Jelas berbeda karena di kampus, kami adalah mahasiswa. Maha-siswa, yang seharusnya bisa lebih mandiri. Lebih aktif. Tidak seperti di sekolah dulu, para murid-lah yang biasanya 'didekati' guru, pasif.

Sebagai manusia -tidak munafik- saya pernah kesal terhadap salah satu dosen. Beliau mengajar, menurut saya, seperti tidak 'menghormati' mahasiswanya. Mengapa? Pada saat itu, beliau sering sekali meng-cancel dan mengganti jadwal kuliah yang seharusnya. Sangat sering. Saya kesal. Iya, memang saya tidak tahu bagaimana sibuknya beliau, be here and there, mobilisasi tinggi.. Tapi, lalu apa gunanya pihak akademik membuat dan menetapkan jadwal kuliah?

Saya menjadikan ini menjadi suatu parameter, bahwa seorang dosen terkesan kurang bijak dalam mengatur jadwalnya. Kurang bijak, dimana mahasiswa tidak 'dihormati' sebagai -kasarannya- pihak yang BUTUH akan kegiatan belajar-mengajar tersebut.

Bukankah akan lebih baik jika ada win-win solution di antara kedua belah pihak, pengajar dan muridnya? :)

Betapapun, saya tetap menghargai my teachers. Insyaalloh... :P
..karena mereka hebat :)

Friday, April 8, 2011

CaGardep DAGADU

Woohoo, udah lama saya ingin nulis sesuatu tentang ini. Calon Garda Depan DAGADU. No, I'm not one of the members of this club (GarDep), just wanna share about my experience related to its recruitment :)

Saya masih inget banget, saat mau daftar, saya cari tahu lebih banyak tentang CaGardep ini dengan google. Daaan, saya menemukan beberapa blog yang cerita 'bagaimana CaGardep' ini.

Yak, sekitar Januari tahun lalu, kalau nggak salah Recruitment CaGardep angkatan 38, saya mendaftar (siapa tahu iseng-berhadiah) untuk menjadi mahasiswa part time di DAGADU. Tahapannya lumayan banyak nih:
1. Front Interview
2. Tes tertulis (Bahasa Inggris, pengetahuan umum, dan psikologi)
3. Focus Group Discussion
4. Depth Interview
5. User/management Interview
6. Indoor training
7. Outdoor training
8. Magang

Memang keliatannya sedikit lebay dan ribet, udah kaya ngelamar kerja 'beneran' yak, hehe. Namun dari sekian step tersebut, saya gugur di tahap 5.. :hammer

Front Interview menjadi tahapan pembuka, di mana para pelamar kerja diwawancarai dengan ringan, misalnya perkenalan diri. Terkadang disuruh pakai Bahasa Inggris to tell about you. Tergantung interviewernya juga sih. Di tahap awal ini, dapat terlihat personality seseorang dari cara dia memperkenalkan diri, juga sejauh mana pengetahuannya seputar Kota Jogja. Kalau dulu saya lebih banyak becandaan sih, fun gitu saat interview, dan yang penting be myself.

Tes Tertulis -saya rada lupa- pokoknya ada tes Bahasa Inggris, pengetahuan umum (Jogja), dan tes psikologi. Dari ketiganya, saya paling enjoy sama tes psikologi.. Soal English-nya juga nggak terlalu susah kok. Kalau tentang pengetahuan seputar Jogja, jangan lupa hafalin apa saja objek wisata Jogja, plus nama jalannya yaa (waktu itu ada pertanyaan 'Pusat Oleh-oleh Bakpia ada di jalan mana'. Untung deket rumah jadi tahu):D

Focus Group Discussion adalah sebuah diskusi dalam grup. Di FGD ini, diberikan sebuah kasus, lalu masing-masing anggota di grup diminta untuk menyampaikan pendapatnya. Di sini jangan kuatir kalau ada yang keliatan 'lebih pinter ngomong'. Belum tentu dia akan lolos karena ke-dominansi-annya itu. Yang paling penting adalah bagaimana menjadi member di grup dengan bijak memberikan pendapat.

Pada Depth Interview, wawancara-nya sama seperti Front interview, tapi kayanya lebih serius aja. Waktu itu saya enjoy banget, rasanya di semua tahapan rekrutmen kerja, saya paling senang diwawancara :P (saya pernah part time di Kopma UGM, rekrutmennya pakai interview juga dong, i really enjoyed it!).

Management Interview, naah ini nih tahapan yang bikin saya gugur. Hiks. Di sini yang jadi interviewernya adalah para user (manager gitu kayanya) di DAGADU. Usianya mungkin sekitar 30an tahun dan mereka semua berempat. Ya jelas rada keder juga, tapi kayanya yang bikin saya nggak lolos adalah... karena saya nggak yakin bisa ngisi kewajiban shift dalam seminggu. Kalau tidak salah, minimal 4 shift dalam seminggu, sedangkan waktu itu (semester 4), saya banyak praktikum. Makanya, waktu ditanya "Kamu bisa ngisi berapa shift dalam seminggu?" itu saya jadi bingung. Kebingungan saya itu mungkin terbaca oleh mereka sebagai suatu ketidaksiapan kali yah. Jadi saat pengumuman setelah tahap itu, saya dinyatakan tidak lolos.

Selanjutnya, untuk Indoor-Outdoor Training dan Magang, saya tidak bisa cerita lebih detil :P

Dari tiga tahap akhir tersebut, masih berlaku sistem gugur loh ya. Ada temen (kenalan) saya, gugur. Udah sampai magang loh padahal! Apa nggak ngenes. Apalagi katanya tiga tahap akhir itu bener-bener butuh waktu dan energi ekstra. Bahkan bisa sampai mengorbankan waktu kuliah.

Namun, dari semua tahap itu, saya yakin pastilah ada pelajaran dan pengalaman yang dapat diambil. Walaupun saya cuma sampai tahap kelima, rasanya pengalaman menjadi bagian dari segitu banyak peserta CaGardep itu bener-bener berharga. Saya ngrasain bagaimana deg-degan-nya. Saya jadi tahu Focus Group Discussion itu bagaimana.

Nyicil lah persiapan mental kalau suatu hari ikut tahapan-tahapan yang serupa lagi untuk melamar kerja :)

Thursday, April 7, 2011

You Prove it!

Hey, I've heard something good about you. Umm I don't know what it really is, but I'm pretty sure it's what you always dream about. You know you've made it, you make it true--one of so many dreams you have. Congratulations for you! There's no reason not to be happy for you, yes I really am!
:)

“Take the first step in faith. You don’t have to see the whole staircase, just take the first step.”
~ Dr. Martin Luther King Jr.


Well done! Keep going, dude \m/

UPDATE: This post is dedicated to one of my best friend: B.

PS: He doesn't want people know about 'it'. LOL

Thursday, March 24, 2011

Ada Peluang. Kamu Berani. Ambil!

Hari ini saya memutuskan sesuatu yang -menurut saya- sangat penting. Hoshhh, saya perlu mikirin ini hampir seminggu lamanya. Hal yang sebenarnya tidak perlu ragu-ragu untuk diputuskan, sih. Tapi dasarnya saya saja yang orangnya kadang terlalu berhati-hati, kayak Pak SBY kali yah :p

Jadi, ada sebuah tawaran untuk mahasiswa/i di kampus, untuk gabung di sebuah proyek penelitian. Semacam proyek hibah, kalau tidak salah yang menyelenggarakan adalah PSPG (Pusat Studi Pangan dan Gizi), PAU UGM. Temanya bermacam-macam, tetapi objek yang jadi fokusnya adalah pengembangan untuk industri UMKM. Tema yang saya inginkan adalah tentang GMP (Good Manufacturing Practices) dan Sanitasi pada UMKM.

Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Itu yang menarik perhatian saya. Rencananya sih, saya ingin mengambil skripsi dengan objek UMKM. Kalau saya terlibat dalam proyek tersebut, harapannya bisa lebih punya pengalaman untuk skripsi nanti.

Nah, beberapa hari sebelumnya saya ragu-ragu. Gabung nggak ya? Dengan IPK yang masih nge-press di sekitar angka 3 (walaupun 3 lebih dikit sih, hehe) ini, saya berpikir apakah saya sanggup? Sanggup dalam hal membagi waktu, serta sanggup dalam hal memecahkan masalah-masalah yang ada di proyek tersebut nantinya. Okay, deadline saya untuk lulus adalah setahun lagi, tahun 2012. Pikiran-pikiran pesimis mulai muncul, misalnya apakah saya bisa konsekuen terhadap belajar saya di kampus, jika saya ikut proyek yang berarti rada menyita waktu itu?

Sehabis ngobrol dengan Pak Iwan, dosen saya yang terkait dalam proyek tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk ikut. Beliau bilang, "Jika ada peluang dan kamu berani, ya ambil saja! Why not?" :)

Kata BERANI, yang di sini berarti BERANI dalam hal taking risks, masih jauh sepertinya dari dalam diri saya. Seseorang bisa memilih antara dua hal: being a risk taker, or a risk avoider. Mau ambil risiko, atau menghindari risiko?

Saya menemukan sebuah link tentang itu

"...But risk must be taken, because the greatest hazard in life is to risk nothing. The person who risks nothing; does nothing, has nothing and is nothing. He may avoid suffering and sorrow, but he simply cannot learn, feel, change, grow, love and live."


Wow, that's definitely true! Sejak dulu teori saja yang saya dapat tentang itu. Kalau seseorang nggak pernah action, dia nggak mencoba, maka dia nggak akan tahu! Dari masa-masa mencoba itulah, seseorang pasti akan menemui kesulitan-kesulitan, dan masa sulit itu akan membuatnya dewasa :D

Okay, saya mulai dipenuhi pikiran positif lagi nih! Saya akan mencoba lebih berani taking risks, untuk saat ini, yaa ikut gabung di proyek dengan dosen tersebut :)

Bismillaahirrohmaanirrohiim.. ^^