Showing posts with label experience. Show all posts
Showing posts with label experience. Show all posts

Thursday, August 1, 2013

Penang

Sebuah pulau dengan 'isi' yang cantik dan merupakan salah satu Negara Bagian Malaysia, tentu saja Penang. 5 jam perjalanan dengan bus dari Kuala Lumpur, sampailah saya di sana dengan trio traveler saya. Pertama datang, kami tiba di sebuah terminal bus yang masih sepi, sekitar pukul 3 pagi. Mata masih berat untuk terbuka, dan masih setengah sadar kami kebingungan di terminal bus, "Ini masih kudu nyebrang pakai feri nggak sih?" karena pikiran kami, ini adalah pulau yang terpisah darat. Bayangan kami, kami ada di tempat yang bernama Butterworth dan harus menuju pelabuhan untuk menyebrang.

Celingukan, akhirnya kami memutuskan untuk makan sahur dahulu dengan nasi briyani, hasil 'kebaikan' dan berkah di Masjid Jamek, ta'jil. Rasanya masih enak, padahal bumbunya lumayan menyengat. Namun ternyata belum basi.

Para sopir taksi menawarkan untuk mengantar kami. Mengantar ke mana? Sedangkan kami pun belum tahu kami berada di mana. Jelas kami menolak mereka. Berbekal GPS yang sering melenceng dan peta cetak seadanya, kami mengetahui bahwa kami berada di Terminal Bus Sungai Nibong, yang telah berada di dalam Pulau Penang itu sendiri! Oh ternyata tidak perlu menyeberang pakai feri karena kami telah melewati jembatan!

Kami naik ke gedung lantai atas. Memanfaatkan tempat yang masih sepi itu, kami mencari colokan listrik untuk charging gadget. Untungnya kami sudah membawa 'colokan T internasional', jadi masih bisa mengisi daya baterai kami di colokan ala Malaysia yang bolongannya tiga.

Shubuh tiba dan surau (musholla) di sana dibuka oleh seorang petugas. Kami pun masuk, dan di sanalah, kami mendapatkan saudara baru lagi. Zieha, gadis berjilbab lulusan Universiti Sains Malaysia asal Johor. Dengan bahasa yang bercampur (Indonesia yang mencoba berbicara Melayu), kami bertanya pada Zieha mengenai spot menarik di Penang.

Selepas shubuh kami mulai berangkat, naik bus rapid Penang menuju ke Terminal Bus Komtar di Georgetown, kota pusat di Penang. Kota yang menurut saya classy. Saya selalu suka melihat bentuk bangunan. Entah, padahal saya bukanlah fotografer atau bahkan arsitek. Saya mencoba menemukan dan memotret bangunan-bangunan yang unik dan vintage di sekeliling kota dengan berjalan kaki.

Masjid Kapitan Keling, sebuah masjid yang menjadi tempat rehat jiwa-raga kami di kala matahari tepat menyengat di atas kepala. Karena sudah 24 jam kami tak mandi, akhirnya kami menumpang mandi di sana sebelum sholat berjama'ah dzuhur.

Pukul 14.00 waktu setempat, kami bergegas ke Terminal Bus Komtar untuk membeli tiket pulang ke Kuala Lumpur dari sebuah agen. Sebelumnya kami sudah bertukar nomor HP dan memang janjian dengan Zieha untuk bertemu di Komtar pada pukul 15.00.

Zieha mengajak kami membeli jeruk atau yang berarti buah-buahan yang diolah menjadi manisan. Kemudian, kami berempat naik bus rapid ke Pantai Batu Feringghi untuk ngabuburit. Setelah sekitar satu jam perjalanan yang sukses membuat kami tertidur di bus (jalanan terlalu berkelok-kelok dan sopir yang 'dahsyat' membawa busnya), sampailah kami di pantai indah tersebut. Inilah tempat yang, menurut saya, menyadarkan kami bahwa Penang adalah memang ide destinasi yang menarik...

Pasir berwarna krem yang lembut di kaki, suasana pantai yang bersih, laut yang kebiruan, dan langit sore yang teduh... Mungkin ini adalah sebuah gambaran yang standar untuk sebuah pantai, tetapi ini kali pertama saya menikmatinya di luar negara yang saya tinggali. Suasana pantai yang tidak begitu ramai oleh turis, sepertinya menjadi nilai plus bagi saya. Duduk di tepi pantai, memandang laut, less taking photographs, diam, ini seperti sebuah meditasi. Tenang!

Saat maghrib hampir tiba, kami menuju ke sebuah area semacam outdoor foodcourt, Gurney Drive, kira-kira mungkin setengah perjalanan antara Komtar-Batu Feringghi. Tidak terlalu jauh. Ini sebuah kawasan yang asyik juga! Di sana, kami bisa duduk di tepi perairan yang merupakan sambungan laut di Batu Feringghi tadi. Sepertinya ini tempat nongkrong bagi anak gaul Penang.

Penang, memang benar kalau kata beberapa travel-blogger panutan saya, bahwa inilah surganya kuliner. Favorit saya? Tentu saja Rojak! Campuran dari berbagai macam makanan yang digoreng, tempura, lalu diberi semacam bumbu kacang agak pedas. Duh, susah didefinisikan karena begitu menikmati (dan kelaparan) saat itu. Ada juga Laksa, tapi saya tidak terlalu suka karena asam. Saya tak habis memakannya, hanya menyemili mi-nya saja.

Pukul 22.00. Kami kembali ke Komtar dan berpisah dengan Zieha. Dia akan kembali ke Johor, dan kami kembali ke Kuala Lumpur. Betapa ajaibnya manusia dalam memulai hubungan dengan sesamanya. Tiba-tiba saja kami sudah mendapat saudara-saudara baru di Malaysia. Hmm, bagaimana jika kelak saya berhasil keliling dunia dan kenalan serta berteman dengan paling tidak satu orang dari sebuah negara? Fenomena people-to-people buat saya selalu menarik.

Ah, Penang terasa manis di hati saya.

Monday, July 29, 2013

Kuala Lumpur

Saya menyesalkan bahwa kesan pertama yang saya dapatkan adalah buruk. Petugas imigrasi di Bandara LCCT (Low Cost-Carrier Terminal) terasa less friendly terhadap kami, orang Indonesia. Tidak dapat disalahkan juga, mungkin hubungan antara Indonesia dan Malaysia yang terkadang memanas, menjadi salah satu hal penyebabnya. Atau, dengar-dengar, ini karena para TKI dari Indonesia yang di Malaysia sering menyalahi aturan. Misalnya, bekerja di Malaysia tapi tidak punya izin kerja. Dan mungkin, dengan penampilan saya yang awut-awutan saat itu, saya dikira TKW yang mau berulah di Malaysia. How sad.

Tips pertama: Jangan berpenampilan (maaf) kampungan seperti gembel kalau lagi di Malaysia, khususnya saat pertama datang di bandara.

Menginap di sebuah hostel bersama dua kawan saya -yang kemudian kami menyebut diri kami sebagai Trio Ransel, hehehe- di kawasan China Town, tepatnya Jalan Sultan, cukup menguntungkan kami karena hostel tersebut berada di kawasan turis yang ramai. Kami menginap di Backpackers Travelers Inn http://www.backpackerskl.com/ dengan hanya membayar 12 MYR saja, atau kurang dari Rp 40.000,00. Sebelumnya, kami telah mem-booking dengan hanya mengirim e-mail saja (tanpa uang DP) untuk kamar dorm. Karena kami bertiga cewek semua, saat itu resepsionisnya langsung bilang, "So I'll give you private dorm lah,"

Alhamdulillaah, akhirnya kami menempati kamar dorm (ada 4 kasur) untuk bertiga saja, tak perlu berbagi room dengan travelers cowok.

Daerah penginapan kami, China Town, merupakan daerah pecinan di Kuala Lumpur. Yah, walaupun kami kurang bisa menikmati makanan di sekitar sana, karena kebanyakan non-halal. Namun, di daerah Pudu Raya (tidak jauh dari China Town), ada restauran halal favorit kami: Shukran, di mana para pelayan restaurannya adalah para orang India yang baik-baik. 'Baik-baik' di sini, akan ada saya ceritakan ya.

Jadi, di Malaysia, penduduknya kebanyakan adalah keturunan India, Cina, dan Melayu. Masing-masing, menurut saya dan dua kawan saya, ada cerita tersendiri. Orang India di Malaysia tipikalnya adalah.. Err.. Bagaimana ya, entah, kami sering merasa tidak nyaman dengan mereka. Hal ini karena kami bertiga yang cewek-cewek semua ini, sering sekali 'dilihatin'. Dari atas sampai bawah. Sungguh, kami tak nyaman. Sedangkan orang Cina dan Melayu lebih cuek. Namun, biasanya, kalau kami menjumpai pasangan yang PDA (public display of affection alias bermesraan di depan umum), biasanya sih pasangan orang Cina, hihihi.

Selebihnya, para penduduk Malaysia ini sebenarnya ramah. Saya tidak merasakan adanya 'permusuhan' di sini. Ya kecuali di bandara itu.

Tips kedua: Bagi yang suka observing people seperti saya, coba perhatikan orang-orang di Malaysia. Entah ya, menurut saya ini menarik.

Dapat merasakan berpuasa Ramadhan di negeri orang, yaitu Malaysia, membuat saya sangat bersyukur. Di negara yang banyak muslimnya ini, tentu tidak sulit menemukan masjid dan makanan halal. Suatu hari yang benar-benar membuat saya berkesan, adalah pengalaman ta'jilan di Masjid Jamek.

Masjid Jamek, terletak tak jauh dari kompleks 'jajahan' kami selama di sana: China Town, Pudu Raya, Dataran Merdeka. Pokoknya, Masjid Jamek ini dekat dengan gedung HSBC. Kami tiba di sana di hari pertama, tepat saat maghrib. Tadinya kami ragu-ragu, sudah adzan, baru datang, kok pengin dapat makan ta'jil. Apalagi saat itu, para jama'ah wanita sudah mulai makan nasi ta'jilnya, dan yang pria masih antri mendapat ta'jil. Tak disangka, seorang petugas masjid yang membagikan bungkusan makanan, langsung memanggil kami dan.. KAMI LANGSUNG DIKASIH TIGA BUNGKUS NASI TA'JIL! Subhanallaah. Terharu sekali. Ternyata wanita didahulukan. Dan senangnya, kami berkenalan dengan orang Indonesia yang sudah tinggal lama di sana, namanya Bu Yel dan Bu Wis. Ah, saudara baru!

Seperti para wisatawan lainnya, saya mengunjungi spot-spot menarik di Kuala Lumpur, seperti Petronas, Bukit Bintang (yang penuh dengan mal), Genting Highlands (walaupun hanya karena ingin menikmati cable car saja, hihi), dan lain-lain. Saya rasa sudah banyak para travel-bloggers yang mengulasnya, jadi tidak akan saya bahas.

Kuala Lumpur, kota yang teratur, dengan masyarakat yang majemuk.



Friday, July 26, 2013

Pack and Go!

Backpacking. Something that I have never thought to do years ago. But a travelogue by Windy Ariestanty, Life Traveler, changed me, as it became my inspiration and opened my mind that you can travel around the world on budget. And later, people call it as backpacking.

Going without paying any luggage, somehow, you only need to master how to pack your belongings on your backpack. Quite challenging, though, since you sometimes just want to bring this and that, ALL you think you need.

Hunting airline promo fares will be your new hobby. Backpackers often start their new steps from it. And for me, yes, I got my first experience to go to another country from promos.

Thailand, Singapore, and Malaysia. Not many nor far, but experiencing as a traveler in those countries has opened my mind enough: That many people, outside your country, are living.. With their own way. You can 'take off' your selfishness, for a moment. You can see how 'the other world' is spinning. You can be more grateful, you can even love your origin country more and more.

Thailand, Singapore, Malaysia.
And I promise myself to travel more and farther.

Wednesday, March 7, 2012

Bad English of Mine


When i was in elementary school, Mrs. Uut, my English teacher decided moving to Australia with her husband. Since she was my favorite teacher, I was really sad, my friends were too.

That afternoon was the last class we had before her leaving. All students cried, we really didn't want her to go.
I started to write something in English for Mrs. Uut and gave it to her. I gave my own handmade bracelet, too.
'Maybe these things can make her know that I love her and someday she'll come back to teach here,' that was what I thought.

When I memorize it now, I'm like.. OH GOD, WHY..
*facepalm*
Guess why??

Because what I wrote on that letter was:
Mrs. Uut, please don't remember me..
'Please don't remember me..'
Remember.
WHAT???!! Dafuq!
What I meant to say was 'don't forget me'.. But..
My bad English made it wrong!



From now on, I'll improve my English skill, so I won't have embarrassing experience like that again.

Hey, how's my English, you think? Still sounds like a mess?
D'oh. My bad!

Monday, October 24, 2011

Perpanjangan SIM di SIM Corner AmPlaz Yogyakarta

Ceritanya, saya kemarin shock berat (rada lebay) gara-gara nyadar kalau SIM C saya udah habis masa berlakunya. SIM saya udah mati sejak tanggal 20 September 2011, berarti sebulan lebih. Lalu, saya putuskan untuk memperpanjang SIM C saya di Ambarukmo Plaza.

Saya datang pukul 14.30 WIB, sempat terburu-buru juga takutnya udah telat atau ditutup gitu. Selain itu, sejak pagi saya udah was-was karena berdasarkan beberapa orang yang saya tanyai, katanya kalau telat memperpanjang, maka harus ujian ulang. Males lah ya, ini aja dulu SIM 'nembak'.. Hehehe.

Saat saya tiba di SIM Corner (2nd floor AmPlaz), ternyata lumayan sepi. Daaaan, saya nggak kena denda ataupun disuruh ujian ulang gara-gara telat sebulan! Ujian ulang alias bikin SIM baru harus dilakukan kalau telat memperpanjang sampai 1 tahun.

Saya juga tanya ke petugasnya, ternyata tutup pendaftaran di sini sekitar jam 15.00-15.30 WIB. Fyuuuh, untung saja nggak kesorean nih datangnya. Oya, ada jam istirahat pelayanan, yaitu jam 12.00-13.00 WIB. Biasanya kalau datang sekitar jam-jam siang gitu malah antriannya lagi banyak.

Proses-proses memperpanjang SIM di sini:

  1. Pendaftaran. Pelayanan pendaftaran adalah antara jam 09.00 WIB (pokoknya se-buka-nya mall ini lah ya, hehe) hingga 15.30 WIB. Siapkan fotokopi SIM yang akan diperpanjang dan KTP yang masih berlaku, masing-masing 1 aja. Tadi pas saya ke sana, Om-nya ramah dan asyik. Nggak jutek atau malesin gitu, kok :)
  2. Pengisian Blanko. Dari pendaftaran tadi, bakal dikasih berkas (semacam blanko) yang perlu diisi. Kalau Anda orangnya gampang bingung, jangan khawatir, di situ ada contoh pengisian blanko, kok, hehehe. Kalau mau cepat dan tidak antri pakai bolpennya, bawalah bolpen dari rumah. Bolpen kalau tidak salah, tadi hanya ada 2 di meja. Jaga-jaga saja kalau pas banyak orang mengantri, lebih baik bawa sendiri, kan?
  3. Cek kesehatan. Berkas tadi dibawa ke petugas kesehatan. Tadi saya dicek tensi dan ditanya berat badan oleh petugas. Cek kesehatan ini diminta biaya Rp 30.000,00. Lucunya, saat dicek tensi, ternyata normal. Petugasnya tanya. biasanya apakah tensi saya normal? Tentu saja tidak. Saya juga heran, ini biasanya tensi saya rendah, kok. "Tadi dateng ke sini-nya keburu-buru ya, Mbak?" Hahaha, iya juga, gara-gara keburu-buru, jadi deg-degan dan jadi normal deh :D
  4. Pembayaran via BRI. Jangan khawatir repot, loket BRI cuma ada di sebelah bilik cek kesehatan, kok. Di sini kita membayar Rp 75.000,00 (SIM C), sedangkan untuk SIM A, biayanya Rp 80.000,00. 
  5. Input Data. Dengan dilayani oleh seorang polwan yang cantik dan ramah, data-data kita diinput (untuk nantinya dicetak sebagai kartu SIM). 
  6. Foto. Nah, ini nih bagian paling penting.. #eh Hahaha. Kartu SIM buat 5 tahun, bok. Masa ya mukanya kucel. Siapin senyum dan muka sebaik mungkin, hehehe. Tadi, setelah difoto, petugasnya nunjukin foto jadi yang masih di komputer. "Begini, Mbak, fotonya. Gimana?" Sebenarnya bisa tuh kalau mau diulang fotonya. Mumpung sepi juga :p
  7. SIM dicetak. Yeeee, SIM udah jadi deh! :D
Simpel saja, kan? :)

Kalau nggak salah, perpanjangan SIM di samsat biayanya Rp 75.000,00 + Rp 20.000,00, ya? Menurut saya, uang total Rp 105.000,00 sudah lumayan pas untuk memperpanjang SIM di AmPlaz ini. Pelayanannya cepat, petugasnya ramah, tempat tunggunya adem. Bisa sekalian jadi anak gaul mall.. :p

Thursday, September 15, 2011

The 1st Experience: Teeth Scaling

Ternyata, Fakultas Kedokteran Gigi ada kerjasama setiap tahun dengan Pepsodent untuk acara periksa gigi gratis. Baru tahun ini saya tau loh.. #eh
Jadi, hari ini saya bersama sang pacar, dateng ke FKG UGM untuk periksa gigi gratis.

Setelah di screening (periksa atau cek) gigi, ternyata gigi saya harus dibersihin karang giginya. Oke, memang, selama 21.. eh, 22 tahun (FYI, beberapa hari lagi saya ultah ke-22) ini, saya belum pernah sama sekali melakukan SCALING GIGI. Nggak kebayang yah kan, itu karang gigi segimana tebelnya, hahaha. Mana kadang-kadang gusi suka bleeding sendiri. Yah walaupun nggak banyak.

Eeeh ternyata emang bener. Kata dokter, keluhan saya yang berupa gusi berdarah itu penyebabnya adalah karang gigi. Karang gigi itu katanya sih, akumulasi dari plak gigi, ini salah satu penyebabnya adalah karena nggak bersih waktu sikat gigi.

Saya yang rajin sikat gigi ini jadi semakin berhasrat bersihin karang gigi. Heran juga, saya sikat gigi-nya rutin: setelah sarapan, saat mandi sore, dan sebelum tidur malam. Ternyata karang giginya numpuuuuuk banget. Awas loh buat yang rajin sikat gigi, bukan berarti giginya bebas karang gigi,

Pas gigi 'di-bor', lalu lanjut kumur.. Aiih, berdarah lumayan banyak dan... O ow, itu karang gigi yah yang pada protol? Iyuh banget ngeliatnya, karang gigi saya yang rontok itu :S

Kata Bu Dokter, 3 bulan setelah ini saya harus scaling lagi. Sebenarnya sih, 6 bulan sekali, tapi mungkin karena karang gigi saya terlampau tebel kali, hehehe.

Efek setelah scaling? Gigi rasanya jadi linu, lebih sensitif gitu. Tapi yang pasti sih, lebih seger dan kayak kata Bu Dokter: "Bakal jadi 10 kg lebih ringan.." :D