Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

Tuesday, December 17, 2013

About GGP (Not-So-Cool-Post)

Haaaah.
*deep sigh*

Sebenernya pengin punya blog yang isinya nggak melulu cerita tentang kehidupan pribadi.. Tapi berhubung mem-posting keluhan-keluhan di jejaring sosial itu terlalu mainstream, ya sudahlah ujung-ujungnya ya di sini juga mau curhat yang panjang.

Ceritanya belakangan ini lagi galau banget. Iya, sejak Oktober sih lebih tepatnya. Udah 2 bulan, memang, dan kupikir pun lama-lama bakalan ilang rasa galaunya. Ternyata makin muncak. Haaaah.

September-Oktober lalu, aku yang belum 100% dinyatakan lulus sebagai sarjana ini mencoba peruntungan melamar kerja di Great Giant Pineapple (GGP) sebagai management trainee (MT). Oktober awal bahkan sudah sampai Lampung (lokasi GGP) untuk user interview dan sekalian cek kesehatan. Singkatnya, aku diterima sebagai MT di bagian internal audit. Udah seneng banget rasanya, bayangin kalau posisi MT internal audit ini bakalan bawa aku ke mana-mana, alias kerjaannya emang mobile.

Menjelang Oktober akhir, aku dihubungi GGP untuk sign kontrak yang dilaksanakan di Yogyakarta. Saat itulah perasaan galau dimulai..

Aku sudah mantap bener ambil posisi ini. Namun ada beberapa alasan juga yang membuatku nggak bisa tanda tangan kontrak. Dan memang akhirnya surat kontrak yang ditujukan untukku, dengan namaku tertulis di sana, aku kembalikan ke HRD-nya. Kak Denise, Pak Edy, Bu Ellen... Maafkan saya :'(

Banyak pertimbangan, begitu berat memang, tetapi memang itulah keputusan akhirku. Kini rasanya antara masih nyesel (nggak ambil posisi itu), tetapi juga lega (memutuskan itu).

Ibaratnya, aku dan GGP itu kayak pasangan cewek-cowok lagi sama-sama pedekate, ternyata sama-sama suka, tetapi sayangnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang belum dimulai.. Alias tidak jadian. Nyesek. Belum jodoh. Walaupun sama-sama suka, tapi tidak jadi bersama.

Aku kangen suasana di GGP, kangen Bandar Jaya-Lampung dengan kesemrawutan lalu lintasnya, yah walaupun ke sana hanya beberapa hari untuk rekrutmen pada saat itu.
Aku kangen teman-teman seperjuangan rekrutmen GGP, yang walaupun baru kenal saat itu, tapi sudah terasa akrab. Sangat berkesan.
Aku kangen................ :(

"Kita sadar ingin bersama, tapi tak bisa apa-apa.."
(Sepatu by Tulus)


Monday, November 18, 2013

My Bucket List

Tahun 2013 sudah hampir habis. Kalau direnungkan, rasanya saya masih punya banyak keinginan atau cita-cita di bucket list yang belum terwujud. Karena belum pernah saya tulis di blog, sekarang mau saya bikin daftarnya lagi ah..

  1. Naik ferris wheel alias bianglala di saat senja hari. Kalau bisa bianglalanya tinggi, jadi bisa benar-benar lihat langit senja favorit saya dan tentunya matahari terbenam yang cantik. Target: Singapore Flyer, London Eye, atau yang di Dufan ya enggak apa-apa deh, hihi.
  2. Belajar berenang, juga menyelam. Ini nih yang selama ini jadi penyebab utama keragu-raguan kalau ada yang ngajak main ke tempat wisata yang butuh punya keahlian bisa berenang. Saya ingin berenang bersama lumba-lumba di Kiluan, Lampung. Atau ke daerah Indonesia Timur yang kata orang merupakan surganya dunia bawah laut. Kata teman, di Karimun Jawa bisa kok pakai pelampung dan kacamata renang, nanti tinggal mengapung sambil lihat bawah/dalam air. Ah tapi... Maunya bisa berenang!
  3. Punya lahan atau tanah yang luas, untuk memelihara binatang-binatang yang telantar dari jalanan. Lalu penginnya bisa menggaji orang untuk memelihara mereka dan merawat tempat di sana. 
  4. Punya perpustakaan pribadi. Saya senang membaca, tetapi sayangnya suka teledor kalau menyimpan buku. Bisa berserakan di mana-mana, hihi. Kalau punya ruangan sendiri khusus buat rak dan buku, pasti asyik.
  5. Punya grand piano. Sejak kecil selalu membayangkan di sudut rumah saya (yang tidak luas ini) ada grand piano, piano yang ukurannya besar dan menurut saya terlihat 'gagah'.
  6. Melihat aurora. Aurora adalah fenomena alam yang membuat langit seperti dikasih lampu sorot warna-warni, hihi. Saya suka sekali melihat langit, apalagi kalau langitnya cantik begitu warnanya. Target tempat: Finlandia, Norwegia, Alaska, atau mana saja deh yang memungkinkan :D
  7. Mendengar orang tua saya bilang kalau mereka bangga pada saya. Sederhana, tapi saya selama ini belum pernah mendengar itu. Entah karena di keluarga saya bilang hal seperti itu dianggap tak perlu, atau karena memang saya belum membanggakan mereka.
Hmm, mungkin sementara ini bucket list-nya 7 poin dulu, kapan-kapan bisalah ditambah. Biasanya saya tulis di kertas besar dan ditempel di kamar, tapi sepertinya sudah perlu di-update. Ada yang sudah tercapai, ada yang belum juga.

Saya percaya, menulis keinginan bisa menjadi salah satu penghantar terwujudnya mimpi-mimpi itu; hal yang mungkin dianggap nonsense bagi para penganut paham realistis. Hehehe.

Bucket list: a list things to do before I 'kick the bucket' (die).

Thursday, March 15, 2012

RIP Bis Surat


Suatu hari saya terheran-heran melihat bis surat yang terletak beberapa meter tak jauh dari rumah saya. Kotak berwarna oranye untuk mengeposkan surat tersebut kini dicat warna putih dengan tulisan "RIP".
RIP? Rest In Peace-kah maksudnya? Apakah bis surat itu sudah tidak dipakai untuk mengeposkan surat lagi?

Teringat masa kecil saya yang sangat antusias menulis surat, postcards, dan kartu-kartu ucapan lainnya yang ditujukan untuk teman-teman saya. Seringkali saya mengirimi mereka yang sedang berulang tahun, sepucuk kartu ucapan ultah warna-warni. Atau, saya menyempatkan menulis kartu ucapan Lebaran sebelum bulan Ramadhan berakhir. Padahal, mereka yang saya kirimi adalah teman-teman yang rumahnya tidak ada satu kilometer dari rumah, masih satu kecamatan dengan saya.

Saya juga pernah, sekali, mengirim surat ke alamat fans club seorang artis cilik di masa itu. Dia artis cilik yang terkenal dan juga cantik, saya begitu mengidolakannya. Namun kalau disebutkan namanya, saya yakin orang-orang akan menertawakan saya. Soalnya kalau dipikir-pikir rada norak :p
Begitulah, sebenarnya saya termasuk gemar surat-menyurat. Bahkan dulu saya mempunyai beberapa sahabat pena di beberapa kota di Indonesia.

Kembali ke bis surat "RIP". Setelah terheran-heran, akhirnya saya memutuskan untuk menelepon ke kantor pos langsung. Berbekal sebuah nomor telepon dari 108 (penerangan), saya menelepon kantor pos di Yogyakarta.
Saya tanyakan perihal bis surat tersebut. Ternyata, pihak kantor pos tidak tahu (atau tidak mengerti pertanyaan saya).

Well, saya jadi ingat sekarang.
Yogyakarta adalah kota seni, banyak seniman di sini.
Bisa saja itu ulah seniman yang 'gatel', gara-gara melihat betapa bis surat itu sekarang sudah tidak laku lagi.
Ya ampun, begitu memprihatinkan (baca: kasihan) melihat nasib bis surat, yang bahkan dari pihak kantor pos pun tidak mengetahui keadaan beberapa bis surat di Kota Yogya.

Iya juga sih, sekarang sudah jarang yang memakai jasa kantor pos untuk surat-menyurat.
Mending SMS/email, menurut orang-orang.
Yeah, technology wins.


Friday, March 2, 2012

Sorry to Say, but: Fuck You, Smokers.

"Dis, aku sekarang ngerokok. Maaf ya."
"WHAT? Fuck you. Just.. FUCK YOU."

Sorry I'm kinda picky. But if you're my close friend, clean at first -without smokes-, then later I find you smoking, so our friendship is over. Oh, maybe still there's that word FRIENDSHIP, but sorry, I'll never be the same like before.

Please, stop smoking or whatever you text me I'll just reply "FUCK YOU."

Tuesday, February 28, 2012

Time Heals...

"Hey, semua ini cuma masalah waktu. Cuma waktu yang akan menyembuhkan."
"Tunggulah saja. Waktu yang akan menjawab."

Waktu.
Seandainya waktu adalah manusia, dia pasti jadi manusia paling hebat.
Semua orang akan mengelu-elukannya.
Semua orang membutuhkannya.
Dan segan padanya.

Memang, waktu bisa menjadi musuh ataupun sahabat. Tergantung sebagaimana cerdik seseorang memanfaatkannya.
Waktu akan menjadi musuh jika seseorang terlalu mengulurnya. Biasanya, si Penunda akan menyesal di kemudian hari.

Namun,
Waktu akan menjadi sahabat, bagi seseorang yang terluka. Luka yang hanya akan dapat disembuhkan, jika waktu telah membuat sakit hati menjadi sebuah kerelaan.

Kerelaan, sebuah kata yang mudah saja diucap di mulut, tetapi sulit untuk dapat membuat hati benar-benar berkata, "Saya sudah rela."

Well, time heals all wounds.


Friday, January 27, 2012

Kegagalan itu (Sedikit) Menyakitkan

Suatu hari kamu membagi informasi mengenai suatu kompetisi kepada seorang teman. Kompetisi yang juga ingin kamu ikuti.

Lalu ternyata, dia memberitahukan info tersebut ke teman yang lain. Dan kamu tetap menginginkan untuk memenangkannya.
Sangat. Ingin. Memenangkannya.
It's your passion and you've been desire for a long time.
Walaupun kamu tahu, mereka punya nilai yang lebih tinggi darimu.

Tak disangka, ternyata mereka lolos, dengan seleksi (pada kompetisi tersebut) yang menurutmu nggak fair.
Dan kamu? Cuma bisa gigit jari.

Kamu mulai berpikir,
apakah kemenangan hanya diperuntukkan untuk mereka -yang lebih tinggi nilainya- nilai yang dilihat dari 'hitam di atas putih'?
gitu aja, tanpa seleksi lebih dalam?

Jadi, masihkah ada ruang untuk si bodoh ini untuk berkembang?

Hey you. Nevermind, my friend. No need to be guilty. Just go your way.
People go and forget, don't they? And I probably will do the same.


saat-saat menyakitkan, 

Januari 2012

Tuesday, November 1, 2011

November Rain

Kyaaa udah bulan November aja nih >,<
Alhamdulillah ngrasain November lagi.. a li'l bit nervous, though. Many works to do :D

Senangnya, karena 1 November ini diisi dengan jam-jam hujan. Jam 2 pagi saya terbangun karena suara gemericik hujan. Dan nggak tau kenapa, I randomly took my mobile phone and texted my boyfriend: "Hujan. Romantis banget. Coba ada kamu.." Itu SMS aslinya dengan sedikit pengubahan ya, hahaha.

Pagi-pagi masanya orang pada berangkat kerja atau kuliah, daerah rumah saya mendung-mendung mesra gitu (istilah apaan nih).. Ternyata, daerah utara Yogya alias daerah kampus saya (UGM), hujan lumayan deras (berdasarkan timeline di Twitter, hehe). Envy deh, hujannya nggak sampai rumah saya :p

Pas siang-siang saya pulang dari kampus, di jalan udah sempet gerimis rintik-rintik tapi kecil dan jarang banget. Akhirnya beberapa jam kemudian, saat saya lagi asyik nge-net, tiba-tiba baru tersadar kalau ternyata udah hujan aja nih di daerah rumah saya. Seneng banget deh, siang jadi adem :)

Begitulah.
Hari ini saya kepingin nulis tentang hujan.
Saya selalu suka hujan.
Entah, di saat orang-orang terlihat bete dengan adanya hujan, saya sih happy aja. Toh mereka juga bakal merengek-rengek minta hujan sama Tuhan kalau lagi kepanasan.

Apalagi saat beberapa waktu belakangan ini. Cuaca kan panas banget ya. Nggak tau ini kemarau kayanya lagi salah musim, kali. Lama banget nggak hujan. Lihat saja, orang-orang pada ngarep biar hujannya turun.

Coba kalau lagi sering hujan, orang-orang kehujanan, pasti ngeluh aja bawaannya.
Jujur saya risih dengernya. Dikasih Tuhan begini, pada nggak terima. Dikasih yang begitu, nggak mau juga.

Kalau kebetulan saya kehujanan saat di jalan, dan sedang bersama orang yang nggak suka hujan, saya diem aja kalau dia ngomel-ngomel gara-gara hujan.

Kalau saya sendiri yang apes kehujanan di jalan, saya mencoba biar nggak marah..
Saya selalu suka hujan.

Oya, di antara orang-orang yang pro dan kontra terhadap hujan, ada juga yang 'di tengah-tengah'. Katanya, "Bukannya nggak suka kalau hujan, tapi mendingan kalau pas di jalan atau luar rumah sih jangan kehujanan deh."
Hahaha, malah nawar.. xD

Kebanyakan orang bilang, mereka sangat suka bau tanah yang khas saat tersiram air hujan, atau disebut petrichor. Namun, buat saya, suara gemericik rintikan hujan adalah yang paling indah.. :)
Menurut saya, suaranya itu eksotis..
*Eksotis? Aneh ya? Err, maaf saya kehabisan kata-kata buat menggambarkan betapa saya menyukai suara hujan*

Ngomong-ngomong tentang fakta mengenai hujan, kan ada banyak tuh, salah satunya:

"Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu."

Hmm, jangan-jangan saya memang selalu rindu, jadi setiap mendengar suara hujan bawaannya kayak lagi denger lagu? Aihh.. <3
Hihihi...


Monday, October 24, 2011

Aku dan Mereka

"Sahabatku memang sedikit, tapi mereka 'berkualitas'.." seseorang berkata padaku.
Hmm, iya, memang. Aku punya banyak orang dekat yang kusebut teman. Beberapa dari mereka mempunyai kedekatan yang lebih denganku, dan selanjutnya kusebut mereka.. sahabat.

Entah, aku selalu menganggap hubunganku dengan mereka -teman-teman dan sahabatku- tetap berkualitas juga. Aku bercerita kepada mereka tentang segala sesuatu yang ingin kuceritakan. Apa saja. Mungkin terkadang untuk cerita-cerita tertentu, hanya kubagi dengan beberapa. Terkadang aku menyesuaikan antara what story i'm gonna tell dengan my friends' characters.

Jadi, aku berpikiran bahwa orang tertentu akan mempunyai respon yang berbeda terhadap ceritaku. Itulah mengapa aku harus 'menyesuaikan antara karakter cerita dengan karakter teman/sahabat' jika aku hendak bercerita tentang sesuatu :D

Mereka selalu ada di sekelilingku. Aku menjadi riang saat bersama mereka.

Namun, di saat lain aku juga menjadi yang paling pendiam dan pemurung...

Mereka bisa menjadi begitu perhatian dengan diriku, ceritaku, dan lain-lain yang menyangkut aku.

Namun di saat lain mereka bisa sibuk dengan urusan masing-masing dan terkesan mengacuhkanku...

Aku sekarang mencoba mengerti, perlahan.
That's not their problems. I shouldn't call it as a problem. It's just a common thing.
Iya deh, semua itu wajar.

And..
I'm independent!
\m/


Wednesday, June 8, 2011

Tak Bermakna

Saya merasa begitu tak bermakna untuknya, saat mengetahui dia sedang sedih dan kecewa karena sesuatu yang tak berhasil dicapainya, sedangkan saya tak bisa berbuat apa-apa.
Dan mungkin dulu saat dia tengah berusaha keras untuk proses pencapaian tersebut, saya malah mengganggunya dengan kerewelan saya.

Selalu saja, penyesalan itu berada di akhir.

Maaf untuk ke-takbermakna-an pada diri ini.. :'|

(Kata 'maaf' itu pun saya rasa tak akan pantas terucap)


Thursday, May 5, 2011

Karena Aku "Data Pencilan"

...

♀ : "Cewek-cewek idamanmu.. Hebat-hebat. Yang kuliah di teknik lah, yang calon dokter, yang ahli statistik.. Sekarang seleramu menurun. Seleramu rendah. Aku. Aku ini apa dibanding mereka? Ah kamu payah!"
♂ : (tersenyum) "Iya, ada yang kuliah ekonomi juga." (terbahak)
♀ : "See? Semuanya terlihat bersinar, they're all super women! Miris ya, seleramu benar-benar menurun! Prihatin!"
♂ : (masih tertawa) "Hmm. Iya ya, memprihatinkan. Hahaha."
♀ : (mendengus) "Nah. Makanya cari aja lagi. Yang dokter tuh!"
♂ : "Aku nggak mau."
♀ : "Kenapa?? Aku kan cuma data pencilan di hidupmu. Carilah yang setara mereka, gadis-gadis idamanmu!"
♂ : "Kamu. Kamu data pencilan, tapi yang di atas, tinggi.."

...

-semoga memang begitu-

Friday, April 29, 2011

Jumat Pagi dan Para Pengemis

Jumat pagii.
Di luar rumah saya, terlihat puluhan orang yang memakai sandang (maaf) kumuh, mulai beraksi.
Tidak, mereka bukan pemulung. Mereka peminta-minta.
Saya sungguh heran, bagaimana sekelompok orang tersebut bisa secara bersama-sama di suatu daerah, bergerombol dari satu rumah ke rumah lain, untuk meminta-minta.
Gerombolan tersebut biasanya terdiri dari 5 orang.

Saya tetap heran, hingga saya melihat sebuah mobil pick up (bak terbuka), membawa segerombolan orang tersebut.
Ah, ternyata ada yang menjadi 'supplier'-nya.
User-nya menerapkan supply chain management dengan lumayan baik.

Inikah cerminan negeriku?
Bos pengemis.
Supplier pengemis.
Para pengemis.

Miris.


Tuesday, April 26, 2011

Teachers :)

I appreciate my teachers/lecturers who can teach and motivate the students without make them feel depressed,
who care and respect them like they're his/her children,
who can teach any lessons not only by what he/she says but also show it by what he/she does.

Dari sekian banyak dosen yang pernah dan sedang mengajar saya di kampus, hanya beberapa yang menurut saya "memenuhi kualifikasi" sebagai dosen teladan. Saya begitu respect terhadap para tenaga pengajar, khususnya beliau-beliau yang bisa "mengajar tetapi tidak melulu mengajarkan materi pada silabus". Sedikit rumit dipahami kah, kata-kata saya barusan?

Menjadi tenaga pengajar itu berat. Harus sabar dengan murid-muridnya yang bandel, yang kadang "butuh waktu rada lama" buat memahami materi, dan lain-lain. Sungguh, saya benar-benar mengagumi guru-guru dan dosen-dosen saya. Namun, saya akan menaruh apresiasi lebih tinggi terhadap para guru/dosen yang mengajar dan memberi motivasi buat murid/mahasiswanya. Kata-kata motivasi yang diselipkan di antara jam-jam beliau memberi kuliah, atau saat bertemu face to face.

Seringkali saya membandingkan dosen di kampus saat ini dengan guru saat di sekolah dulu. Jelas berbeda karena di kampus, kami adalah mahasiswa. Maha-siswa, yang seharusnya bisa lebih mandiri. Lebih aktif. Tidak seperti di sekolah dulu, para murid-lah yang biasanya 'didekati' guru, pasif.

Sebagai manusia -tidak munafik- saya pernah kesal terhadap salah satu dosen. Beliau mengajar, menurut saya, seperti tidak 'menghormati' mahasiswanya. Mengapa? Pada saat itu, beliau sering sekali meng-cancel dan mengganti jadwal kuliah yang seharusnya. Sangat sering. Saya kesal. Iya, memang saya tidak tahu bagaimana sibuknya beliau, be here and there, mobilisasi tinggi.. Tapi, lalu apa gunanya pihak akademik membuat dan menetapkan jadwal kuliah?

Saya menjadikan ini menjadi suatu parameter, bahwa seorang dosen terkesan kurang bijak dalam mengatur jadwalnya. Kurang bijak, dimana mahasiswa tidak 'dihormati' sebagai -kasarannya- pihak yang BUTUH akan kegiatan belajar-mengajar tersebut.

Bukankah akan lebih baik jika ada win-win solution di antara kedua belah pihak, pengajar dan muridnya? :)

Betapapun, saya tetap menghargai my teachers. Insyaalloh... :P
..karena mereka hebat :)

Thursday, April 7, 2011

You Prove it!

Hey, I've heard something good about you. Umm I don't know what it really is, but I'm pretty sure it's what you always dream about. You know you've made it, you make it true--one of so many dreams you have. Congratulations for you! There's no reason not to be happy for you, yes I really am!
:)

“Take the first step in faith. You don’t have to see the whole staircase, just take the first step.”
~ Dr. Martin Luther King Jr.


Well done! Keep going, dude \m/

UPDATE: This post is dedicated to one of my best friend: B.

PS: He doesn't want people know about 'it'. LOL

Sunday, March 27, 2011

Mediocre

Saya selalu heran saat ada orang yang menulis di akun profil-nya, akun apapun, yang mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai seorang yang biasa.

"Saya adalah seorang yang biasa saja, I'm just an ordinary boy/girl."


Kenapa lhoo, menganggap diri sendiri menjadi individu yang biasa?
Everybody is unique. Yourself deserves to be described "more special" than that!

Ayo, hargai diri sendiri tetapi tanpa ada arogansi! :)

Tuesday, March 22, 2011

Because I'm Worth it!

Wow, malem yang abstrak. Kenapa abstrak? Karena pemikiran saya sedang abstrak, hahaha (abaikan!). Abstrak-yang berarti tidak jelas, tidak terdefinisi. Okay, terkadang saya berpikir sebenarnya siapakah saya? Saya 'mau ngapain'? Apa yang saya punya?

Lihat cewek itu. Dia cantik, ramah, lemah lembut. Soal otak? Jangan ditanya, karena dia jelas-jelas cerdas, pintar.. Such a perfect girl!

Begitulah, terkadang saya minder, sama si ini, sama si itu.. Tapi dalam hal ini, saya yakin orang-orang tidak tahu bahwa saya sedang minder, kecuali setelah saya mengungkapkannya. Di luar saya terlihat ceria, enjoy my life, saya punya banyak teman, saya mudah bergaul, dan tidak terlihat tanda-tanda saya depresi karena minder :p

Sekarang saya berpikir, siapakah saya untuk keluarga, terutama kedua orang tua saya? Untuk teman-teman saya? Untuk pacar saya?

Ibu pernah berkata, "Bagaimanapun prestasi akademik kamu, yang terpenting adalah kamu tetap jadi 'anak manis' ibu." Tetapi saya yakin, ibu berkata begitu bukan berarti beliau 'mengizinkan' saya cuek terhadap nilai-nilai saya :). Kakak perempuan saya bilang, saya ini childish. Haa, that's true, but I'll change it into 'mature', Sist :)

Beberapa teman dekat saya pernah saya tanyai bagaimana pandangan mereka terhadap saya. Apa yang mereka katakan, mostly ya seperti yang saya bilang di awal tadi. Saya ceria, ceplasceplos, supel, baik, punya ketertarikan terhadap banyak hal.. Untuk kekurangannya, mereka bilang saya ini gampang panik, moody, slow learner-atau eufemisme dari... LEMOT. Hahaha. Thank you for telling me the truth, guys.

Kemudian, pendapat pacar saya? Well, I haven't found out exactly, what's on me which makes him fall in love with? Setiap kali saya tanya kenapa cinta sama saya, dia cuma bilang, "Emmh, kenapa ya.. Enggak tau..?"

Sebenernya jawaban seperti itu tidak memuaskan rasa ingin tahu saya, tetapi saya pernah baca sebuah quote yang kira-kira begini: "True love is when you love someone but you can't find the reasons why (you're in love with him/her)."

TRUE LOVE, jadi ya ekspektasi saya seperti itu :D

Anyway, begitulah ke-abstrak-an saya malam ini. Mikir bahwa terkadang saya ini 'less than others'. Padahal jika berpikir negatif seperti itu, tanpa disadari, akan mematikan potensi diri yang positif. Pheww, sepertinya saya harus menuliskan beberapa tulisan penyemangat di dinding kamar, agar tidak terlalu meng-underestimate diri saya sendiri! :)

“Self-worth comes from one thing -- thinking that you are worthy.” (Wayne Dyer)